Mayapada alokasikan 25% belanja modal untuk dorong transformasi kesehatan digital
Mereka menargetkan jumlah rumah sakit meningkat dua kali lipat menjadi 14 dalam 10 tahun.
Mayapada Healthcare mengalokasikan seperempat belanja modalnya untuk membangun sistem komunikasi yang aman dan infrastruktur digital sebagai bagian dari rencana ekspansi jaringan rumah sakit di Indonesia selama satu dekade ke depan.
Grup yang saat ini mengoperasikan tujuh rumah sakit tersebut menargetkan peningkatan jumlah fasilitas menjadi 14 dalam kurun 10 tahun. Strategi transformasi digitalnya diproyeksikan mampu meningkatkan jumlah pasien dan pendapatan lebih dari tiga kali lipat selama periode tersebut, ujar Chief Medical Officer Dini Handayani kepada Healthcare Asia.
“Sekitar 20–25% belanja modal kami pada periode 2025–2026 dialokasikan untuk kesehatan digital dan infrastruktur TI,” ujarnya dalam wawancara daring. Proyek utama mencakup peningkatan sistem informasi rumah sakit, rekam medis elektronik, serta platform keterlibatan pasien.
Pipeline ekspansi grup ini mencakup Mayapada Apollo Batam International Hospital, proyek kolaborasi dengan Apollo Hospitals yang dijadwalkan beroperasi pada awal 2027. Pada akhir 2024, Mayapada juga memperoleh pendanaan sebesar US$157 juta dari Bain Capital untuk mendukung strategi pertumbuhannya.
Kemitraan dengan Netsfere, Inc. menjadi bagian penting dalam penguatan sistem komunikasi aman. Staf di rumah sakit yang sudah beroperasi maupun yang akan dibangun dibekali perangkat pesan terenkripsi untuk berbagi informasi pasien sambil tetap memenuhi standar kepatuhan.
“Peningkatan komunikasi aman ini merupakan bagian signifikan dari roadmap transformasi digital kami dalam 12 hingga 18 bulan ke depan,” kata Handayani. “Platform tersebut akan diterapkan secara bertahap di seluruh fasilitas yang ada maupun yang akan datang.”
Ia menambahkan bahwa inisiatif ini juga mendukung target Mayapada untuk memenuhi standar layanan internasional. Grup ini turut menjalin kerja sama dengan National University Hospital di Singapura, Apollo Hospitals India, dan Imperial College London dalam program pelatihan dan fellowship.
CEO Netsfere Anurag Lal mengatakan sistem yang dikembangkan dirancang dengan pendekatan mobile-first dan ramah pengguna, disertai pelatihan guna memastikan adopsi berjalan optimal. Rumah sakit juga akan dilengkapi dashboard analitik untuk memantau penggunaan serta kepatuhan secara real-time.
Investasi ini dilakukan di tengah tantangan sektor kesehatan Indonesia yang masih menghadapi ketimpangan adopsi digital serta meningkatnya ancaman siber. Laporan SOCRadar mencatat lebih dari 4.000 serangan phishing dan 130 insiden ransomware di Indonesia dalam setahun terakhir.
Salah satu kasus yang mendapat sorotan adalah serangan ransomware terhadap Pusat Data Nasional pada Juni 2024 yang sempat mengganggu layanan sejumlah instansi publik. Menurut Reuters, pelaku meminta tebusan sebesar US$8 juta.
“Platform pesan konsumen kini banyak digunakan di lingkungan organisasi,” kata Lal. “Padahal penggunaan platform tersebut berpotensi mengorbankan keamanan. Kebocoran data bisa menimbulkan kerugian antara US$1 juta hingga US$10 juta.”