Radjak luncurkan unit cepat jantung dan stroke untuk tanggap darurat perkotaan
Model ini berpotensi diperluas ke jaringan rumah sakit urban seiring meningkatnya kebutuhan.
Radjak Hospital Group meluncurkan Advanced Cardiac & Stroke Response Unit pada November lalu, dengan fokus mempercepat penanganan dua kondisi medis paling kritis—serangan jantung dan stroke—di tengah meningkatnya kasus kardiovaskular serta kepadatan layanan rumah sakit di kawasan perkotaan Indonesia.
“Titik awal kami sangat praktis,” ujar Abdul Barry, director Radjak Hospital Group, kepada Healthcare Asia. “Di wilayah perkotaan, jarak dan proses adalah musuh terbesar bagi pasien jantung dan stroke. Unit ini dibangun untuk menghilangkan keduanya.”
Urbanisasi telah mengubah pola kebutuhan layanan kesehatan di kota-kota besar Indonesia. Kepadatan penduduk meningkatkan tekanan pada layanan gawat darurat, sementara kemacetan, jarak antarfasilitas, dan alur kerja rumah sakit yang terfragmentasi kerap memperlambat penanganan kasus serangan jantung dan stroke—dua kondisi yang sangat bergantung pada kecepatan respons.
Dalam sistem rumah sakit konvensional, pasien biasanya harus melewati berbagai departemen seperti unit gawat darurat, pencitraan, intervensi, hingga perawatan intensif, yang menambah waktu di setiap tahapan. Unit baru Radjak menyatukan proses tersebut ke dalam satu jalur layanan terintegrasi yang mencakup triase, pencitraan tingkat lanjut, akses kateterisasi, hingga pemantauan intensif dalam satu sistem koordinasi.
Unit ini ditempatkan di kawasan urban dengan tantangan waktu respons darurat paling tinggi. Dengan mengurangi perpindahan internal pasien dan menyelaraskan kerja tim klinis, Radjak menargetkan waktu dari diagnosis menuju intervensi bisa dipangkas secara signifikan.
“Dalam kasus serangan jantung dan stroke, waktu selalu menang jika sistem bergerak lambat,” kata Barry. “Tujuan kami adalah membuat sistem bergerak secepat kondisi darurat itu sendiri.”
Radjak melihat unit ini sebagai model layanan yang dapat direplikasi di jaringan rumah sakit perkotaan mereka seiring meningkatnya permintaan. Alih-alih mengandalkan sistem rujukan antar fasilitas, grup ini berfokus pada standardisasi layanan spesialis agar dapat berjalan konsisten di berbagai lokasi.
Hasil awal menunjukkan berkurangnya keterlambatan diagnosis serta alur pasien yang lebih lancar, memperkuat pandangan bahwa rumah sakit di kota harus mampu menangani permintaan yang berlangsung terus-menerus, bukan hanya saat lonjakan kasus.
“Mesin tidak menyelamatkan nyawa—sistemlah yang melakukannya,” ujar Barry. “Teknologi hanya berarti ketika mampu mempersingkat jalan menuju pengobatan.”
Unit ini juga didukung rekam medis elektronik terintegrasi di seluruh jaringan serta alat diagnostik berbasis kecerdasan buatan, yang memungkinkan tenaga medis mengakses data pasien lebih cepat dan mengoordinasikan penanganan lintas tim. Menurut Barry, integrasi ini membantu mengurangi keterlambatan administratif pada kasus kritis.
“Jika alat digital justru menambah langkah, maka itu gagal,” katanya. “Dalam layanan kritis, teknologi harus menghilangkan langkah, bukan menambahnya.”
Penyakit kardiovaskular dan stroke masih menjadi salah satu penyebab kematian utama di Indonesia, dengan peningkatan kasus paling cepat terjadi di kawasan perkotaan. Fokus Radjak pada layanan spesialis berbasis waktu kritis mencerminkan area yang dinilai akan memberikan tekanan terbesar terhadap kapasitas layanan kesehatan dalam dekade mendatang.
“Rumah sakit di kota harus dirancang untuk menghadapi permintaan yang konstan,” tutup Barry. “Unit ini adalah respons kami terhadap realitas tersebut.”