Rumah Sakit Tan Tock Seng mengembangkan model baru perawatan bedah | Healthcare Asia Magazine
, Singapore
1786 views
/Tan Tock Seng Hospital

Rumah Sakit Tan Tock Seng mengembangkan model baru perawatan bedah

Model perawatan bedah ini dapat memotong masa inap di rumah sakit dari enam hari hanya  menjadi satu hari.

Rumah Sakit Tan Tock Seng (TTSH) melakukan sekitar 700 operasi penggantian lutut setiap tahun untuk penduduk lanjut usia Singapura yang memiliki osteoartritis lutut. Sebagai rumah sakit umum, ia tidak dapat mengambil langkah mundur pada operasi elektif ini, bahkan ketika COVID-19  melanda dan melebihi kapasitas tempat tidur.

Yang membantu rumah sakit mengatasi tantangan ini adalah model Enhanced Recovery After Surgery (ERAS) yang dikembangkan pada 2017. Melalui ERAS, terjadi pengurangan lama rawat inap pasien secara progresif dan signifikan, dan akhirnya TTSH dapat melakukan operasi penggantian lutut di pusat bedah rawat jalan. Pasien yang menjalani penggantian lutut diperbolehkan melanjutkan masa penyembuhan mereka di rumah setelah hanya satu sampai dua hari, beberapa bahkan pulang pada hari yang sama setelah operasi, hal ini efektif sebagai prosedur rawat jalan.

Penggantian lutut parsial, jenis penggantian lutut invasif minimal, sebelumnya telah sukses menjalani uji coba di TTSH Ambulatory Center selama masa pra-pandemi. Berangkat dari kesuksesan ini, Total Knee Replacements (TKR) diintegrasikan dengan mulus ke pusat rawat jalan mulai Januari 2021, yang merupakan puncak pandemi COVID-19 di Singapura. Hal ini memungkinkan TTSH untuk merawat pasien non-COVID dengan osteoartritis lutut yang juga memungkinkan rumah sakit utamanya melanjutkan perawatan dan pengobatan pasien COVID-19.

“Dengan keberhasilan transisi TKR kami ke operasi rawat jalan, kami dapat melanjutkan sebagian besar prosedur TKR kami meskipun kekurangan tenaga kerja atau tempat tidur di gedung utama,” Dr. Kelvin Tan, Head of Adult Reconstruction Service TTSH, mengatakan kepada Healthcare Asia.

TTSH berencana memperluas jumlah ruang yang dikhususkan untuk rawat jalan dan operasi shari pada  2030 di seluruh wilayah mereka beroperasi.

ERAS mempersingkat masa rawat inap di rumah sakit dan mengurangi biaya

ERAS diperkenalkan pada 2016 termasuk untuk operasi kolorektal dan pankreas serta operasi hati. Program ini kemudian diadopsi di TKR, di mana ada tiga fase utama: pra-operasi, peri-operasi, dan pasca-operasi.

Fase pra operasi melibatkan pemberdayaan pasien dan mengubah pola pikir pasien melalui edukasi pra operasi dan optimalisasi kondisi medis, nutrisi, dan kekuatan otot.

Ashton Neoh, Principal Physiotherapist TTSH, mengatakan pasien mulai melakukan latihan lebih awal dalam memfasilitasi pemulangan awal pasien operasi TKR.

“Kami mempersiapkan pasien lebih awal pada fase pra-operasi. Kami telah mengidentifikasi pasien yang lebih lemah atau pasien yang memiliki pergerakan yang tidak sebaik yang lain. Selama fase pra-operasi, terapis atau koordinator akan mengajarkan pasien beberapa latihan sehingga mereka dapat memperkuat kaki mereka bahkan sebelum mereka dirawat untuk operasi,” kata Neoh.

“Ini akan mendorong pergerakan dini. Pasien dapat mulai bergerak keluar dari tempat tidur dan mulai berjalan-jalan pada hari yang sama setelah operasi. Itu akan memfasilitasi pemulangan awal mereka, yang tidak mudah bagi fisioterapis karena membutuhkan perubahan pola pikir yang besar untuk melakukannya,” kata dia menambahkan.

Pada fase perioperatif, anestesi spinal biasanya diberikan untuk memungkinkan operasi penggantian lutut dilakukan. Obat-obatan juga diberikan secara pre-emptive untuk mengurangi kehilangan darah, sehingga , mual, muntah, dan pusing dapat dihindari. Hal ini memungkinkan pasien dalam keadaan optimal untuk pergerakan dini pasca operasi.

BACA LEBIH LANJUT: TTSH, ASUS build new AI tool for quick diagnosis of blood disorders

Terakhir, fase pasca operasi mencakup optimalisasi kontrol nyeri, pergerakan dini tanpa infus, koordinasi perawatan pasca-pemulangan, dan pemeriksaan kembali pasien.

Bagi pasien, ini berarti pengurangan biaya yang signifikan dengan pemulihan dari rumah mereka sendiri. Untuk rumah sakit umum, ini memungkinkan pergantian yang lebih tinggi untuk operasi elektif, mengurangi krisis tempat tidur dan memungkinkan rumah sakit untuk memfokuskan sumber dayanya pada kondisi darurat lainnya termasuk pasien COVID-19.

“Pasien [rumah sakit] umum akan cenderung lebih berhemat untuk masa inap di rumah sakit dibandingkan dengan pasien di rumah sakit swasta, yang umumnya tidak keberatan membayar lebih untuk masa inap yang lebih lama,” kata Tan.

Meningkatkan keterampilan perawat di pusat rawat jalan

Agar operasi lebih lancar di pusat rawat jalan, TTSH meningkatkan keterampilan perawat untuk mempelajari model ERAS. Neoh mengatakan mereka melatih semua perawat bangsal bedah untuk memastikan pasien memiliki latihan pergerakan yang cukup untuk pemulangan awal dari rumah sakit.

“Kami meningkatkan keterampilan perawat kami agar mereka dapat membantu pasien ambulasi menggunakan berbagai jenis alat bantu jalan. Kami melatih mereka bagaimana menangani pasien dengan aman dan ambulasi pasien menggunakan berbagai jenis alat bantu jalan,” kata Neoh, yang terlibat dalam perencanaan pelatihan protokol ERAS untuk perawat.

TTSH juga mengupayakan setidaknya 60 hari perawat bedah dalam merawat pasien operasi penggantian lutut dan pinggul.

“Ini memberikan kepuasan bagi perawat dalam pekerjaan mereka karena mereka dilengkapi dengan lebih banyak pengetahuan dan keterampilan untuk menangani kasus seperti itu,” Adeline Tang, Nurse Manager di bangsal bedah TTSH.

Tim ERAS TKR TTSH terdiri dari staf dari departemen bedah ortopedi, anestesi, spesialisasi keperawatan, fisioterapi, dan terapi okupasi yang terlibat dalam seluruh perjalanan pemulihan pasien. Mereka menyediakan tim perawatan yang komprehensif dan menyeluruh untuk pasien yang menjalani operasi dengan protokol ERAS.

Follow the link for more news on

Spesialis mata bekerja untuk mengatasi resistensi terhadap skrining AI Myopia

Beberapa orang tua merasa khawatir pada kemampuan AI dalam memberikan penilaian holistik dibandingkan dengan dokter.

Terobosan proteomik Bertis mendorong ekspansi ke pasar klinis AS

Perusahaan teknologi Korea ini berupaya memperluas keahlian dalam mengobati penyakit dengan kebutuhan medis tinggi yang belum terpenuhi.

Tech startup memperbaiki tekanan biaya perawatan kesehatan negara berpenghasilan rendah

Penyedia layanan kesehatan dapat menggunakan perangkat lunak dan telepon pintar untuk mengurangi biaya tinggi untuk diagnosis.

Perjalanan Indonesia menuju rekam medis elektronik

Hanya 13% rumah sakit yang telah menerapkan rekam medis elektronik secara optimal di Indonesia.

Bagaimana penyedia layanan kesehatan di Asia Tenggara mengatasi tekanan biaya

Pasar bereksperimen dengan single-specialty care dan ambulatory care centre.

Kapal Rumah Sakit Angkatan Laut Cina menawarkan layanan kesehatan gratis di Jakarta

Kapal rumah sakit ini menawarkan layanan rawat jalan selama delapan hari.

Mengapa penyedia layanan kesehatan Asia harus fokus pada pelatihan digital untuk tenaga kerja

Seorang pakar kesehatan digital menyoroti e-training Singapura untuk petugas kesehatan sebagai contoh terbaik.

Apa yang masih kurang dalam upaya pencegahan virus hepatitis di kalangan ibu hamil di Asia Pasifik?

Masih ditemui kekurangan dalam hal skrining dan obat eliminasi penyakit di antara wanita hamil.

Bagaimana spesialis THT menemukan perlindungan ekstra terhadap penyakit yang ditularkan melalui udara selama scope procedure

Pakar kesehatan berupaya mencegah kontaminasi aerosol dan droplet selama prosedur pembedahan.

Mengapa Osteopore Singapura memilih untuk berekspansi di Afrika Selatan

Untuk menandai ekspansi, perusahaan mengirimkan pengiriman implan regeneratif tengkorak yang pertama.