Indonesia hadapi kesenjangan dalam evakuasi medis udara | Healthcare Asia Magazine
, Indonesia
8600 views
CEO Flying Doctor Indonesia, Vika Cokronegoro

Indonesia hadapi kesenjangan dalam evakuasi medis udara

Flying Doctor Indonesia hanya mampu melayani kurang dari 12% dari sekitar 600 permintaan evakuasi tiap tahunnya.

Permintaan evakuasi medis udara di Indonesia terus melampaui kapasitas yang tersedia, membuat banyak pasien harus menunggu transfer darurat.

Flying Doctor Indonesia, yang dioperasikan PT Air Ambulance Indonesia, hanya mencatat 50–70 penerbangan evakuasi per tahun, sementara jumlah permintaan mencapai 600. CEO Vika Cokronegoro mengatakan keterbatasan armada pesawat masih menjadi hambatan terbesar.

“Permintaan terus meningkat dari tahun ke tahun, tetapi kendalanya ada pada jumlah pesawat yang terbatas,” ujarnya kepada Healthcare Asia. “Ketika pesawat masuk perawatan atau kru sudah mencapai batas jam terbang, pasien pasti harus menunggu.”

Rumah sakit spesialis terkonsentrasi di kota besar, sehingga pasien di daerah terpencil bergantung pada transfer udara. Indonesia juga belum memiliki pusat komando medis nasional, yang membuat akses data medis cepat menjadi sulit.

“Mempersiapkan ambulans udara berbeda dengan rumah sakit yang bisa langsung merespons dengan ‘code blue’,” kata Vika. “Semuanya harus disiapkan dari awal—ventilator, pompa infus, perangkat monitoring—kalau tidak, risikonya sangat tinggi.”

Ambulans di daerah pedesaan sering kali hanya membawa peralatan dasar, sehingga memperlambat transfer ke bandara. Perjalanan dari desa bisa memakan waktu hingga empat jam, sementara bandara kecil yang tutup pada malam hari menyebabkan keterlambatan lebih lanjut.

Setiap misi dimulai dengan penilaian apakah pasien bisa terbang secara komersial atau memerlukan ambulans udara khusus. Tim operasi kemudian mengurus izin, menyiapkan dokumen, dan memastikan rumah sakit rujukan siap menerima pasien.

“Surat penerimaan dari rumah sakit sangat penting,” ujar Vika. “Kami tidak bisa tiba di rumah sakit lalu mendapati mereka belum siap menerima pasien. Itu bisa sangat berbahaya.”

Flying Doctor Indonesia dapat menangani dua hingga tiga penerbangan per hari jika pesawat tersedia, meski banyak permintaan tidak terlayani karena biaya, kondisi pasien yang memburuk, atau keterbatasan armada.

Salah satu kasus menonjol adalah bayi berusia sembilan bulan yang diterbangkan ke India untuk transplantasi hati. “Keluarga hanya bisa mengumpulkan US$12.000 (Rp200 juta), sementara di Indonesia biayanya bisa mencapai US$72.000 (Rp1,2 miliar). Dengan dukungan rumah sakit mitra di India dan yayasan donor, bayi itu akhirnya bisa menjalani operasi,” kata Vika.

Wisatawan dan perusahaan juga menjadi klien tetap. Evakuasi darurat di Gunung Rinjani telah menyelamatkan nyawa, sementara perusahaan tambang dan minyak menggunakan layanan ini karena lokasi mereka jauh dari rumah sakit.

Untuk menjaga keselamatan, Flying Doctor Indonesia melengkapi pesawat dengan ICU portabel, ventilator, dan perangkat monitoring. Konsultasi gratis juga diberikan untuk membantu pasien memilih rumah sakit dan dokter yang tepat.

Integrasi telemedisin juga direncanakan untuk mempercepat triase dan rujukan.

“Target kami adalah memperluas jaringan, meningkatkan kompetensi tim medis, dan membangun sistem koordinasi digital yang lebih cepat,” kata Vika. “Indonesia sangat luas, dan tanpa sistem darurat kesehatan nasional, akses akan tetap terbatas.”

Radjak luncurkan unit cepat jantung dan stroke untuk tanggap darurat perkotaan

Model ini berpotensi diperluas ke jaringan rumah sakit urban seiring meningkatnya kebutuhan.

Mayapada fokus kurangi kesalahan awal proses laboratorium

Mereka menargetkan hasil pemeriksaan yang lebih konsisten di seluruh jaringan rumah sakit.

Hong Kong perluas jaringan layanan primer dalam dorongan reformasi kesehatan

Pusat kesehatan akan menyediakan skrining, pemeriksaan kesehatan, dan manajemen penyakit kronis.

Chang Gung Hospital bidik peningkatan pasien asal Filipina

Fokus pada layanan kanker dan bedah berteknologi tinggi.

Pilot medtech Singapura–Malaysia dinilai dapat menarik lebih banyak investasi regional

Namun partisipasi tetap bergantung pada peluang pasar dan permintaan produk.

HMI Medical bidik lebih banyak pasien luar negeri lewat penguatan operasi robotik

Mereka menargetkan pasien kelas menengah hingga atas yang mencari prosedur medis berteknologi tinggi.

A1 Health hentikan penggunaan anestesi desflurane di Indonesia

Langkah ini menurunkan emisi karbon di ruang operasi hingga 25%.

WA Health perluas sistem pesan digital untuk memperkuat respons darurat

Platform ini menggantikan pager, panggilan telepon, dan SMS untuk memangkas keterlambatan koordinasi.

AHCC perkuat layanan kanker lewat program Patient Advisor

Pendamping pasien membangun kepercayaan, menjelaskan prosedur, hingga memastikan tindak lanjut terapi.

Mayapada alokasikan 25% belanja modal untuk dorong transformasi kesehatan digital

Mereka menargetkan jumlah rumah sakit meningkat dua kali lipat menjadi 14 dalam 10 tahun.