Apakah Thailand mampu menjadi representasi layanan kesehatan universal, siapkah untuk telemedicine? | Healthcare Asia Magazine
, Thailand
242 views

Apakah Thailand mampu menjadi representasi layanan kesehatan universal, siapkah untuk telemedicine?

Lalu lintas Bangkok yang padat adalah salah satu faktor yang menekan penyedia layanan kesehatan untuk menerapkan layanan digital on-demand.

Thailand bersiap untuk layanan digital on-demand menuju fase berikutnya dari program layanan kesehatan universal atau Universal Healthcare (UHC) sebagai bagian dari upayanya untuk memperluas jaringan layanan kesehatan ke populasi mobile-first yang berkembang pesat.

Di Bangkok Leg of the 2019 Healthcare Asia Forum, lebih dari 40 peserta dari 20 rumah sakit dan pelaku industri, dengan pembicara dari Singapura dan seorang peserta dari Belanda, bertukar pikiran tentang bagaimana Thailand dapat meningkatkan layanan kesehatannya lewat telemedicine.

David Thomas Boucher, Chief Business Transformation Officer di Bumrungrad International Hospital, mendefinisikan ‘layanan on-demand’ sebagai disrupsi pasar layanan medis melalui teknologi seluler di mana layanan ditawarkan sesuai permintaan, menghasilkan pengalaman pasien yang lebih mudah, lebih terjangkau, dan memuaskan. “Dengan mengadopsi layanan on-demand, kami pada dasarnya mengadopsi pendekatan ritel dengan menyatukan pasien dan penyedia melalui teknologi,” jelasnya, sembari menyoroti bagaimana masalah lalu lintas yang berkembang di Bangkok menandakan kebutuhan yang lebih besar akan telemedicine.

Selain membutuhkan direktori dokter yang lebih baik atau menerapkan ulasan online kepuasan pasien yang serupa dengan penilaian pengendara terhadap pengemudi Grab, rumah sakit juga perlu mengadopsi lingkungan ramah pasien seperti kafe Starbucks atau lobi hotel untuk mengubah citra rumah sakit yang ‘menakutkan’, dia menambahkan.

“Ada banyak posisi yang dapat diambil oleh rumah sakit, tetapi pada akhirnya kita harus menjadi bagian dari solusi untuk tidak hanya tetap kompetitif, tetapi juga untuk meningkatkan industri medis secara keseluruhan.”

Michael David Mitchell, Hospital Director Bangkok International Hospital, mengungkapkan sentimen tersebut dan menyoroti bagaimana rumah sakit swasta di Thailand menjadi kompetitif secara internasional dengan mendigitalkan layanan kesehatan.

Dia menambahkan bagaimana rumah sakit swasta di Thailand memiliki pilihan yang lebih luas dibandingkan dengan yang ada di Australia, mulai dari jumlah kamar yang dapat dipilih pasien, hingga sistem berbagi jaringan yang ada dalam operasi rumah sakit, juga banyaknya ruang parkir yang tersedia di rumah sakit lokal.

“Kita jelas harus cerdas dalam mengelola biaya, tetapi tetap mendapatkan hasil pasien yang baik, jadi penting bagi kita untuk memahami struktur biaya tenaga kerja klinis dan non-klinis,” kata Mitchell. “Telehealth adalah langkah selanjutnya, dan juga sangat berguna untuk daerah terpencil di mana praktisi umum layanan primer dapat memberikan layanan dari kantor mereka tanpa harus menempuh perjalanan berjam-jam untuk menjangkau pasien di daerah pedesaan. Telehealth telah bekerja di Australia, dan ada potensi di Thailand.”

Dr. Tullawat Pacharapha, COO Vejthani Hospital, berbagi pandangan ini dengan menambahkan bahwa fragmentasi geografis akan semakin berkurang seiring dengan dorongan digitalisasi di Thailand, terutama jika dibutuhkan telemedicine.

Perjalanan menuju UHC

Thailand telah menempuh perjalanan panjang untuk mencapai posisi saat ini dalam menyediakan UHC bagi 69,81 juta penduduknya dan reputasinya sebagai salah satu pusat pariwisata medis terkemuka di kawasan itu, menurut Dr. Phusit Prakongsai, Senior Advisor on Health Promotion, Ministry of Health Thailand.

Dari skema asuransi kesehatan masyarakat yang terfragmentasi dan populasi besar yang tidak diasuransikan pada tahun 1963, Thailand menerapkan UHC pada tahun 2002, ketika produk domestik bruto (PDB) per kapita negara itu hanya $1870.

“Thailand dari dulu hingga sekarang belum menjadi negara kaya. Kami termasuk negara berpenghasilan menengah ke bawah tetapi kami masih berhasil mencapai UHC. Ada banyak prediksi bahwa negara ini tidak akan bertahan dengan program UHC mengingat meningkatnya biaya medis, tetapi kami yakin bahwa kami akan dapat melanjutkan ini dengan lebih banyak inisiatif pemerintah, seperti telemedicine.”

Sementara kebijakan telemedicine belum diterapkan di tingkat nasional, Dr. Prakongsai mengatakan bahwa pemerintah sedang mencari lebih banyak investasi dan mendapatkan waktu yang tepat untuk memberikan layanan digital on-demand kepada penduduk lokal, ekspatriat, dan turis. Dia lebih lanjut menambahkan bahwa ketika pariwisata medis Thailand tumbuh, ada diskusi tentang bagaimana sektor publik dan swasta dapat bekerja sama untuk mempertahankan biaya, tetapi tetap menjamin layanan berkualitas tinggi.

Meskipun Thailand telah mencapai layanan kesehatan universal, masih ada peran besar yang dapat dimainkan oleh sektor swasta untuk membuat negara ini terus maju dengan ambisi telehealth dan visi UHC secara keseluruhan, menurut Chris Hardesty, Director of Life Science di KPMG.

“UHC menciptakan siklus yang baik karena dapat menyediakan lebih banyak pekerjaan, yang mengarah pada peningkatan kinerja ekonomi, yang pada gilirannya mengarah pada produktivitas yang lebih tinggi, dan sebagainya,” jelasnya, sembari menyoroti bahwa diagnostik yang dianggap sebagai layanan terbaik dari sektor swasta, yang bisa menjadi bagian terpenting dari keseluruhan kondisi yang ada saat ini. “Mendapatkan diagnosa yang tepat diawal dapat menghemat banyak biaya, sehingga perusahaan dan sektor publik harus bekerja sama untuk memahami bagaimana hal itu dapat membantu sistem secara keseluruhan.”

Sementara beberapa orang mengatakan bahwa industri medis mengalami kekurangan staf, Major General Niwat Boonyuen, deputy CEO of Group 4 Bangkok Dusit Medical Services (BDMS) dan Director of Bangkok Hospital Chiang Mai, berpendapat bahwa peningkatan keterampilan staf dan penyediaan teknologi yang membantu mereka bekerja lebih baik harus menjadi dua prioritas utama yang menjadi fokus rumah sakit, terutama jika negara tersebut ingin menerapkan telemedicine.

“Jumlah personel tidak menjadi masalah. Rumah sakit perlu memprioritaskan pelatihan untuk profesional mereka, serta menemukan cara untuk melibatkan pasien dalam layanan mereka. Komunikasi, terutama dengan pasien internasional, sangat penting karena semakin banyak pasien yang ingin memahami apa yang terjadi, dan mengapa,” jelasnya.

Bangkok Leg of the Healthcare Asia Forum diadakan pada 17 Mei di Doubletree by Hilton.

 

Hong Kong perkuat fokus pada pencegahan penyakit

Langkah ini memberikan hasil positif bagi sistem kesehatan kota tersebut.

Asia Tenggara hadapi ketimpangan akses urologi seiring permintaan melampaui ketersediaan spesialis

Beberapa rumah sakit kekurangan perawatan dan bahan habis pakai untuk prosedur tingkat lanjut.

NUH rombak alur kerja untuk kurangi penumpukan di Rumah Sakit

Rumah sakit ini telah memperluas layanan perawat serta pengambilan keputusan di garis depan.

Asian Hospital opens dedicated hernia clinic

Klinik ini menyasar kesenjangan penanganan di Metro Manila, di mana jumlah kasus jauh melampaui kapasitas bedah yang tersedia.

Hong Kong dorong transparansi harga, uji klinis, dan kapasitas bioteknologi

Enam dari 10 pasien menunda pengobatan akibat kecemasan soal biaya.

Rumah Sakit rombak layanan seiring pasien beralih ke aplikasi kesehatan

Tujuh dari delapan orang dewasa mencari informasi kesehatan sebelum menemui dokter.

Alexandra Hospital andalkan otomatisasi untuk rencana ekspansi

Teknologi dapat mendukung tugas-tugas nonklinis seperti logistik dan dokumentasi.

OUE Healthcare buka sleep lab swasta pertama di Singapura

Sekitar 30% orang dewasa mengalami sleep apnea obstruktif.

Pengembangan obat tradisional Tiongkok di Hong Kong bergantung pada perbaikan digital dan talenta

Kuota rawat jalan bersubsidi di CMHHK sudah terisi penuh pada bulan pertama pembukaannya.