OUE Healthcare buka sleep lab swasta pertama di Singapura
Sekitar 30% orang dewasa mengalami sleep apnea obstruktif.
O2 SleepWell Pte. Ltd. telah membuka laboratorium tidur swasta pertama di Singapura, dengan keyakinan bahwa lamanya waktu tunggu di rumah sakit umum membuat sebagian besar kasus sleep apnea tidak terdiagnosis.
Laboratorium ini memposisikan dirinya sebagai alternatif bagi sistem publik, di mana lebih dari 90% studi tidur dilakukan, dengan pasien umumnya harus menunggu tiga hingga enam bulan untuk menjalani pemeriksaan, kata Direktur Medis Lee Chuen Peng kepada Healthcare Asia.
Sekitar 30% orang dewasa di Singapura mengalami sleep apnea obstruktif, sebuah kondisi yang terkait dengan penyakit kardiovaskular dan metabolik, namun kesadaran akan kondisi ini masih rendah.
"Studi berbasis komunitas terbaru menunjukkan bahwa sebagian besar—lebih dari 90%—tidak menyadari kondisi mereka," katanya dalam jawaban tertulis melalui email.
Kesenjangan ini bahkan lebih besar di seluruh Asia Tenggara, di mana akses terhadap spesialis tidur dan fasilitas diagnostik masih terbatas.
Data industri menunjukkan bahwa untuk setiap pasien di kawasan ini yang menerima terapi, setidaknya empat orang lainnya masih belum terdiagnosis, kata Lee.
Di Singapura, layanan sektor swasta memang sudah ada, tetapi masih terfragmentasi, sering kali mengharuskan pasien berpindah-pindah antara klinik yang terpisah untuk konsultasi, pemeriksaan diagnostik, dan pengobatan.
O2 SleepWell, yang dimiliki oleh OUE Healthcare Ltd., menggabungkan layanan-layanan tersebut ke dalam satu fasilitas, dengan tujuan mempersingkat jarak waktu antara diagnosis dan penanganan.
Permintaan terutama didorong oleh rujukan dari dokter, khususnya dari ahli jantung (kardiolog) dan dokter umum, seiring keterkaitan antara gangguan tidur dan penyakit kronis yang semakin diakui secara luas.
"Sekitar 40% hingga 60% dari permintaan pasien terkait dengan kondisi kronis, dengan sleep apnea obstruktif yang memperparah penyakit kardiovaskular dan metabolik," Lee menunjukkan.
Program kesehatan korporat juga mulai memasukkan kesehatan tidur ke dalam manfaat karyawan, sementara pasien yang lebih muda mencari konsultasi setelah mengidentifikasi pola tidur yang tidak teratur menggunakan perangkat wearable, tambahnya.