NUH rombak alur kerja untuk kurangi penumpukan di Rumah Sakit
Rumah sakit ini telah memperluas layanan perawat serta pengambilan keputusan di garis depan.
Rumah Sakit Universitas Nasional Singapura (National University Hospital/NUH) tengah merombak alur kerja, penempatan staf, dan pengambilan keputusan guna mengurangi penundaan dan duplikasi pekerjaan di seluruh sistem layanannya.
"Setiap serah terima, setiap rujukan, setiap catatan yang berulang adalah titik di mana segala sesuatunya bisa melambat—di mana maksud awal bisa hilang, dan hasil mulai melenceng dari yang diharapkan," kata Aymeric Lim, CEO National University Hospital, kepada Healthcare Asia.
Lim mengatakan rumah sakit ini telah mengidentifikasi hambatan organisasi sebagai kendala utama bagi penyampaian layanan yang berkelanjutan.
Fasilitas milik negara ini telah mengadopsi model yang mereka sebut sebagai "mission command", yaitu mengalihkan lebih banyak pengambilan keputusan kepada tim di garis depan, alih-alih menambah lapisan proses dan pengawasan.
"Naluri alami kita adalah merespons dengan menambah kontrol, menambah proses, menambah detail," kata Lim melalui Zoom. "Namun itu biasanya justru membuat keadaan semakin buruk."
National University Hospital memperkirakan sistem layanan kesehatannya membutuhkan sekitar 6.000 perekrutan setiap tahun untuk mempertahankan tingkat layanan, sehingga mendorong rumah sakit ini untuk merancang ulang peran dan alur kerja, alih-alih hanya mengandalkan perekrutan.
"Kami tidak bisa mengandalkan perekrutan saja untuk keluar dari masalah ini," kata Lim.
Rumah sakit ini telah memperkenalkan kebijakan penempatan ulang sebelum perekrutan (redeployment-before-recruitment), yang mewajibkan para manajer untuk menilai apakah karyawan yang sudah ada dapat dipindahtugaskan sebelum membuka lowongan baru.
Rumah sakit ini juga telah memperluas layanan yang dipimpin oleh perawat. Para perawat di klinik mata kini melakukan suntikan mata, sementara perawat praktik lanjutan (advanced practice nurses) secara mandiri mengambil sampel sumsum tulang. Bidan juga menjalankan klinik prenatal tanpa pengawasan dokter.
Pendekatan yang sama juga diperluas ke tim tenaga kesehatan sekutu (allied health), dengan terapis wicara dan ahli gizi bersama-sama mengelola klinik pemberian makan anak.
Asisten layanan pasien yang sebelumnya ditugaskan untuk pekerjaan administratif juga telah dilatih untuk melakukan triase dan pengambilan darah.
Setiap bulan Januari, rumah sakit ini menjalankan "bulan bersih dan jelas" (clean and clear month), di mana tim-tim meninjau alur kerja, menghilangkan langkah-langkah yang tidak perlu, dan menerapkan otomatisasi atau alat kecerdasan buatan bila diperlukan.
"Ini memberikan izin dan waktu yang terlindungi bagi orang-orang untuk mengubah hal-hal yang biasanya tetap dipertahankan akibat tekanan pekerjaan sehari-hari," kata Lim.