Hong Kong dorong transparansi harga, uji klinis, dan kapasitas bioteknologi | Healthcare Asia Magazine
, Hong Kong
686 views

Hong Kong dorong transparansi harga, uji klinis, dan kapasitas bioteknologi

Enam dari 10 pasien menunda pengobatan akibat kecemasan soal biaya.

Sektor layanan kesehatan Hong Kong bergeser fokus ke arah transparansi harga, kapasitas uji klinis, dan infrastruktur bioteknologi, seiring perusahaan asuransi, rumah sakit, dan perusahaan ilmu hayati (life science) merespons meningkatnya ketidakpastian biaya serta kesenjangan dalam kapasitas pengembangan obat.

Arjan Toor, CEO Health di Prudential plc, mengatakan kekhawatiran soal keterjangkauan lebih didorong oleh minimnya kejelasan di awal, bukan semata-mata soal besarnya biaya pengobatan, yang sering kali membuat orang menunda untuk mendapatkan perawatan.

"Ini bukan sekadar soal besarnya biaya, melainkan lebih kepada ketidakpastian yang dihadapi masyarakat—tidak mengetahui berapa biaya pengobatan, apa yang ditanggung asuransi, dan pada akhirnya berapa yang mungkin harus mereka bayar sendiri," katanya dalam sebuah wawancara.

Enam dari 10 pasien di Hong Kong menunda pengobatan karena kekhawatiran soal biaya, kata Toor, mengutip riset Patient Voices milik Prudential, yang mensurvei lebih dari 4.200 pasien di empat pasar Asia. Lebih dari separuh responden di Hong Kong juga mengatakan tagihan akhir mereka ternyata lebih tinggi dari yang mereka perkirakan sebelumnya.

Inflasi biaya medis Hong Kong diperkirakan akan mencapai 9,9% pada 2026, menurut Mercer Marsh Benefits, bagian dari Marsh & McLennan Companies, Inc., yang mencatat bahwa Asia mencetak proyeksi tingkat tren medis tertinggi secara global pada 2025, yakni sebesar 13%.

Kwok Quek Sin, group chief business technology officer di IHH Healthcare Berhad, mengatakan kecerdasan buatan (AI) tengah digunakan untuk memperbaiki estimasi biaya, visibilitas cakupan asuransi, dan perencanaan biaya yang ditanggung sendiri oleh pasien (out-of-pocket).

"Setiap kali seorang pasien akan ke rumah sakit, selain mengkhawatirkan kesehatannya sendiri, mereka juga harus mengkhawatirkan biayanya," katanya dalam wawancara terpisah.

Ia mengatakan AI sebaiknya diterapkan sebagai alat operasional, bukan sekadar investasi yang didorong oleh tren, dengan fokus pada hasil klinis, efisiensi rumah sakit, dan pengendalian biaya.

Kepala Eksekutif Hong Kong John Lee Ka-chiu mengatakan pada acara Asia Summit on Global Health di bulan Mei bahwa isu utama kini telah bergeser ke soal apakah teknologi layanan kesehatan dapat diubah menjadi alat yang bermanfaat secara klinis, layak secara komersial, dan terjangkau dalam skala besar.

Ia mengatakan Hong Kong berencana memperluas kapasitas uji klinis dan memperbaiki jalur dari riset menuju penerapan komersial. Ia menyebut Greater Bay Area International Clinical Trial Institute, yang dioperasikan oleh Universitas Hong Kong, sebagai bagian dari upaya tersebut.

Anggaran pemerintah untuk 2026-2027 menguraikan kerangka riset teknologi kehidupan dan kesehatan bertajuk "One plus Three" yang berpusat di Hetao Hong Kong Park, sementara pidato kebijakan 2025 mengusulkan pembentukan regulator produk medis serta jalur persetujuan obat yang lebih cepat.

Zhu Tian, co-founder sekaligus CEO di GenEditBio Ltd., mengatakan Hong Kong masih kekurangan kapasitas manufaktur kontrak bersama (shared contract manufacturing) untuk terapi-terapi tingkat lanjut.

"Untuk produk biologis, prosesnya adalah produk itu sendiri," kata Zhu. "Jadi kami harus menghabiskan banyak sumber daya dan waktu untuk kimia, manufaktur, serta pengembangan dan optimalisasi kontrol."

Ia mengatakan fasilitas manufaktur bersama di Hetao dapat membantu startup untuk bergerak dari riset laboratorium menuju uji coba tahap awal pada manusia.

Zhu menambahkan bahwa perbedaan regulasi di berbagai pasar serta kondisi permodalan yang tidak merata tetap menjadi kendala utama bagi para pengembang terapi sel dan gen.

"[Kami perlu] memastikan bahwa kami memiliki modal yang cukup," kata Zhu. "Lingkungan pasar modal masih memiliki ketidakpastian, jadi untuk berbagai tahap dalam bioteknologi, strategi keluar (exit strategy) harus lebih seimbang."

Follow the link for more news on

Hong Kong perkuat fokus pada pencegahan penyakit

Langkah ini memberikan hasil positif bagi sistem kesehatan kota tersebut.

Asia Tenggara hadapi ketimpangan akses urologi seiring permintaan melampaui ketersediaan spesialis

Beberapa rumah sakit kekurangan perawatan dan bahan habis pakai untuk prosedur tingkat lanjut.

NUH rombak alur kerja untuk kurangi penumpukan di Rumah Sakit

Rumah sakit ini telah memperluas layanan perawat serta pengambilan keputusan di garis depan.

Asian Hospital opens dedicated hernia clinic

Klinik ini menyasar kesenjangan penanganan di Metro Manila, di mana jumlah kasus jauh melampaui kapasitas bedah yang tersedia.

Hong Kong dorong transparansi harga, uji klinis, dan kapasitas bioteknologi

Enam dari 10 pasien menunda pengobatan akibat kecemasan soal biaya.

Rumah Sakit rombak layanan seiring pasien beralih ke aplikasi kesehatan

Tujuh dari delapan orang dewasa mencari informasi kesehatan sebelum menemui dokter.

Alexandra Hospital andalkan otomatisasi untuk rencana ekspansi

Teknologi dapat mendukung tugas-tugas nonklinis seperti logistik dan dokumentasi.

OUE Healthcare buka sleep lab swasta pertama di Singapura

Sekitar 30% orang dewasa mengalami sleep apnea obstruktif.

Pengembangan obat tradisional Tiongkok di Hong Kong bergantung pada perbaikan digital dan talenta

Kuota rawat jalan bersubsidi di CMHHK sudah terisi penuh pada bulan pertama pembukaannya.