Alat pemindaian jantung berbasis AI dari Singapura menuju uji coba lebih luas di rumah sakit
Peneliti kejar persetujuan klinis usai model catat akurasi lebih dari 90% dalam berbagai studi.
Singapura tengah membawa sebuah alat kecerdasan buatan (AI) yang mengukur kerusakan jantung dari hasil pemindaian MRI menuju penggunaan klinis, dengan para peneliti berencana memperluas uji coba di rumah sakit sebelum mengajukan persetujuan regulasi.
CARDIA-GM, yang dikembangkan oleh National Heart Centre Singapore (NHCS), berhasil mencatat akurasi lebih dari 90% dalam mengukur volume jaringan parut otot jantung akibat serangan jantung serta microvascular obstruction (MVO), ujar Adjunct Clinical Associate Professor Tan Ru San, Senior Consultant di Department of Cardiology NHCS, kepada Healthcare Asia.
NHCS berencana memvalidasi teknologi ini di sejumlah rumah sakit lain di Singapura sebelum mengajukan lisensi klinis.
National University Hospital, Changi General Hospital, dan Tan Tock Seng Hospital menjadi beberapa lokasi potensial untuk uji coba tersebut, sementara sejumlah rumah sakit di Tiongkok, Malaysia, dan Thailand juga telah menyatakan ketertarikannya, ujar Associate Professor Zhong Liang, principal investigator sekaligus senior clinician-innovator di National Heart Research Institute Singapore, NHCS.
“Dalam 12 hingga 18 bulan ke depan, fokus kami adalah menguji teknologi ini pada populasi pasien yang lebih besar dan lebih beragam,” kata Liang dalam panggilan Zoom bersama Tan.
Menurut Tan, CARDIA-GM mampu menganalisis volume jaringan parut otot jantung dan MVO dari hasil pemindaian cardiac magnetic resonance imaging (MRI) dalam waktu kurang dari satu menit per pasien, dibandingkan dengan analisis manual oleh peneliti berpengalaman yang biasanya membutuhkan waktu sekitar 20 hingga 30 menit.
Liang menambahkan, percepatan waktu pemrosesan ini setara dengan pengurangan waktu analisis hingga 80%-90%.
“Tujuan kami bukan untuk mengatakan bahwa AI lebih baik dibanding para spesialis kami," ujar Liang. Ia menggambarkan teknologi ini sebagai “pasang mata kedua” dan “copilot” bagi para kardiolog, dengan keputusan klinis akhir tetap sepenuhnya berada di tangan dokter.
Tan menjelaskan, pengukuran microvascular obstruction secara mendetail sering kali sulit diterapkan dalam praktik klinis rutin, karena membutuhkan waktu analisis yang panjang serta spesialis berpengalaman.
Pengukuran ini berpotensi membantu mengidentifikasi pasien dengan risiko komplikasi yang lebih tinggi. Menurut Liang, pasien dengan microvascular obstruction yang melebihi 1,4% dari total volume otot jantung menghadapi risiko kematian yang lebih besar selama masa follow-up, sementara pasien dengan jaringan parut yang melebihi 20% memiliki tingkat mortalitas tiga kali lipat lebih tinggi dibandingkan pasien di bawah ambang batas tersebut.
Pratibha Thammanabhatla, practice head for medical devices di GlobalData Plc, mengatakan minat investasi pada teknologi pencitraan berbasis AI terus tumbuh, seiring sistem layanan kesehatan yang menghadapi peningkatan kasus penyakit jantung serta kekurangan radiolog dan kardiolog.
Meski begitu, ia menyebut hibah pemerintah dan lembaga riset masih menjadi sumber pendanaan utama bagi banyak proyek di kawasan ini.
“CARDIA-GM Singapura masih bergantung pada pendanaan hibah dan belum memiliki jalur komersialisasi penuh yang diumumkan secara resmi hingga saat ini,” kata Thammanabhatla dalam jawaban tertulis melalui email.
Ia menambahkan, pasar diagnostik jantung berbasis AI di Asia secara keseluruhan diperkirakan akan terus berkembang, meski keberhasilannya tidak semata-mata bergantung pada performa teknis.
“Karena itu, Singapura memiliki peluang untuk bersaing lewat kualitas dan kredibilitas, bukan semata-mata lewat skala,” kata Thammanabhatla.
Ia menambahkan, perusahaan yang berhasil mengantongi persetujuan regulasi, mengintegrasikan produknya ke dalam alur kerja rumah sakit, serta menunjukkan manfaat klinis yang terukur, kemungkinan besar akan memiliki posisi terkuat di pasar ini ke depannya.